Kaltim  

Dinkes Kaltim Waspadai Ancaman Virus Nipah dari Kelelawar, Tingkat Kematian Bisa Capai 75 Persen

Ilustrasi kelelawar membawa virus nipah. (Ist)

AksaraKaltim – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman virus Nipah yang ditularkan melalui hewan, khususnya kelelawar buah.

“Masyarakat harus waspada dengan mengurangi kontak langsung dengan kelelawar dan menghindari konsumsi buah-buahan yang sudah terkontaminasi air liur atau kotoran hewan tersebut,” ujar Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kaltim Eryariyatin di Samarinda, Rabu.

Imbauan ini menjadi penting mengingat virus Nipah merupakan patogen zoonosis yang memiliki tingkat kematian sangat tinggi, yakni mencapai 40 hingga 75 persen.

Pemerintah menekankan pentingnya mencuci buah hingga bersih sebelum dikonsumsi guna memastikan tidak ada residu cairan dari hewan liar yang menempel pada kulit buah.

Eryariyatin juga meminta warga untuk segera menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai benteng pertahanan utama dalam menangkal infeksi virus mematikan ini.

“Gejala awal yang perlu diwaspadai oleh masyarakat meliputi munculnya demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot, hingga gangguan pernapasan yang akut,” ujar Eryariyatin diberitakan Antara.

Lanjut dia, jika kondisi memburuk pasien dapat mengalami disorientasi, kejang, hingga koma akibat peradangan otak atau ensefalitis yang sangat fatal bagi keselamatan jiwa.

Dinkes Kaltim meminta siapa pun yang mengalami gejala tersebut, terutama setelah berinteraksi dengan hewan liar, untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

“Langkah deteksi dini di puskesmas atau rumah sakit membantu petugas medis dalam melakukan penanganan cepat sebelum terjadi komplikasi neurologis yang lebih berat,” cakapnya.

Meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Kalimantan Timur maupun Indonesia, kesiapsiagaan mandiri masyarakat dianggap sebagai langkah pencegahan terbaik.

Pemerintah juga telah memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk wilayah guna memantau mobilisasi orang dan barang yang berpotensi membawa agen penyakit dari luar negeri.

Upaya pencegahan ini mengacu pada peringatan global dari WHO yang menetapkan Nipah sebagai salah satu penyakit prioritas yang berpotensi memicu pandemi baru.

“Kerja sama antara masyarakat dan tenaga medis dalam melaporkan kejadian mencurigakan diharapkan mampu menjaga stabilitas kesehatan masyarakat di wilayah Kalimantan Timur secara berkelanjutan,” demikian Eryariyatin.