AksaraKaltim – Pemkot Bontang bakal membangun tiga proyek senilai Rp575 miliar dengan skema kontrak tahun jamak pada 2026 mendatang.
Guna mewujudkan program tersebut beberapa kegiatan yang dinilai tidak tepat sasaran bakal dipangkas. Mulai dari perjalanan dinas ASN, bimbingan teknis (Bimtek) dan kegiatan seremonial.
Sementara untuk anggaran rutin seperti Mandatory spending yang dikhususkan 20 persen pendidikan, 30 persen belanja pegawai, kesehatan 10 persen dan infrastruktur 25 persen masih terus berjalan.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan untuk anggaran pembangunan tiga proyek besar itu sudah diajukan dalam daftar belanja tahun depan.
“Kalau kegiatan rutin tidak ada (efisiensi). Tapi kami efisiensi, seperti bimtek ditiadakan kalau yang tidak mendesak,” sambungnya.
Kata dia, ketiga proyek tersebut adalah pembangunan rumah sakit senilai Rp200 miliar. Lalu, pembangunan jalan layang atau fly over di Bontang Kuala Rp200 miliar dan pembangunan Polder di Kelurahan Kanaan senilai Rp175 miliar.
Tiga proyek itu akan dirampungkan pada masa pemerintahan Neni Moerniaeni dan Agus Haris.
Proyek ini digadang menjadi solusi untuk mengatasi persoalan di kota. Proyek Kolam Polder Kanaan berfungsi untuk menampung limpasan air dari hulu sungai Bontang, sehingga debit air dari hulu bisa dikontrol.
Sedangkan, pembangunan fly over atau jalan layang di Kelurahan Bontang Kuala menjadi solusi menangkal dampak banjir rob yang merendam akses utama masyarakat saat air pasang.
Kemudian pembangunan rumah sakit untuk memberikan layanan medis yang lebih maksimal kepada warga Bontang. Sebab saat ini butuh tambahan ruang inap.
“Awal tahun lelang secara terbuka dimulai,” ucap Neni.
Neni menjelaskan, untuk skema pembayaran juga akan dilakukan hingga masa akhir jabatannya. Neni tidak ingin meninggalkan utang bagi pejabat yang akan terpilih pada periode selanjutnya.
“Kami tidak mau tinggalkan utang. Target pembayaran sebelum kami berakhir masa jabatannya,” pungkasnya.






