AksaraKaltim — Memperingati 80 tahun perjalanan organisasi, Serikat Perusahaan Pers (SPS) mengajak industri pers untuk terus berinovasi tanpa mengabaikan kualitas dan independensi.
SPS juga mengajak masyarakat memahami pentingnya keberadaan pers yang sehat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sekaligus meminta pemerintah hadir dalam menjaga keberlanjutan industri pers.
Pesan tersebut mengemuka dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 SPS yang ditandai dengan penyelenggaraan Welcome Dinner, Dialog Media, Rakernas, Official Visit ke IKN, dan ditutup dengan SPS Awards 2026, Rabu-Jumat, 4-6 November 2026, di Samarinda dan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
SPS mengajak seluruh pelaku industri pers Indonesia untuk terus berinovasi dan beradaptasi menghadapi perubahan zaman, tanpa meninggalkan kualitas jurnalistik, profesionalisme, dan independensi yang menjadi fondasi keberadaan pers.
“Pada saat yang sama, SPS mengajak masyarakat untuk semakin memahami bahwa keberadaan perusahaan pers yang sehat bukan semata kepentingan industri media, melainkan kebutuhan bangsa untuk memperoleh informasi yang berkualitas, membangun daya kritis masyarakat, dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Ketua Umum SPS, Januar P. Ruswita.
SPS juga menyerukan kepada pemerintah untuk menempatkan keberlanjutan industri pers sebagai bagian penting dari kepentingan nasional. Pemerintah diharapkan menghadirkan kebijakan dan regulasi yang mendukung tumbuhnya perusahaan pers yang sehat, bukan justru menciptakan tekanan yang mempersempit ruang gerak industri maupun mengancam kemerdekaan pers.
SPS berpandangan bahwa dukungan pemerintah terhadap industri pers tidak cukup diwujudkan melalui pernyataan mengenai pentingnya kemerdekaan pers. Komitmen tersebut juga harus tercermin dalam kebijakan anggaran, regulasi, serta hubungan kelembagaan yang menghormati independensi media.
“Pemerintah perlu menyadari bahwa pers yang sehat adalah bagian dari kekuatan bangsa. Karena itu, kebijakan anggaran dan regulasi seharusnya memberikan ruang bagi industri pers untuk tumbuh. Kami berharap pemerintah mampu menempatkan kepentingan jangka panjang bangsa. Kritik pers tidak semestinya dipandang sebagai hambatan, melainkan bagian dari mekanisme demokrasi,” ujar Januar.
SPS Awards 2026, Apresiasi bagi yang Terus Berkarya
Peringatan delapan dekade SPS menjadi momentum refleksi mengenai masa depan industri pers Indonesia sekaligus pemberian apresiasi, yakni The 17th SPS Awards kepada perusahaan pers, korporasi, lembaga, dan berbagai pihak yang menunjukkan pencapaian dan kontribusi dalam pengembangan industri pers dan komunikasi publik.
Penghargaan diberikan melalui sejumlah kategori, antara lain Indonesia Print Media Awards (IPMA), Indonesia Inhouse Magazine Awards (InMA), Indonesia Digital Media Awards (IDMA), Indonesia Young Readers Awards (IYRA), dan Indonesia Student Media Awards (ISMA). Selain itu, SPS juga memberikan penghargaan melalui kategori Cipta Karsa, Prerana, Lestari, dan Lontar Awards, serta penghargaan bagi SPS Provinsi Terbaik.
Melalui keberagaman kategori tersebut, SPS ingin menegaskan bahwa inovasi dan kualitas dapat tumbuh dari berbagai bentuk media, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Tentang SPS
80 tahun silam, tepatnya 8 Juni 1946, tokoh-tokoh, pendiri perusahaan-perusahaan pers nasional berkumpul di Yogyakarta untuk mengikrarkan berdirinya Serikat Penerbit Suratkabar (SPS). Organisasi ini menjadi alat perjuangan dalam menjaga kedaulatan Republik Indonesia melalui pers.
Salah satu momentum terpenting SPS terjadi tahun 2011, saat Kongres XXIII di Bali. Di mana organisasi ini bertransformasi seiring perkembangan bisnis anggota-anggotanya. Menjadi bukan sekedar organisasi penerbit media cetak dan mengubah brand Serikat Penerbit Suratkabar menjadi Serikat Perusahaan Pers.Saat ini SPS memiliki 668 anggota perusahaan pers di berbagai provinsi. Mayoritas berasal dari media cetak arus utama yang sudah mengembangkan bisnis persnya ke berbagai platform.






