AksaraKaltim – Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (5/9) pagi di perairan Selat Sunda telah berdampak luas terhadap lima provinsi di sekitarnya. Abu vulkanik dari semburan lava bergerak ke Banten, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Sumatera Selatan.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi Gunung Api Anak Krakatau masih terjadi hingga Sabtu (5/9) pagi. Hingga malam setelahnya, abu vulkanik dilaporkan mulai dirasakan warga di beberapa provinsi.
“Sampai saat ini pun, kita masih memantau masih terjadi erupsi di Gunung Api Anak Krakatau ini, masih terdengar, masih ada erupsi,” kata Kepala PVMBG Rita Susilawati, Sabtu (5/9).
Berikut fakta-fakta penting erupsi Anak Krakatau hingga penutupan delapan bandara terdekat:
Picu suara dentuman
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperkirakan suara dentuman di beberapa wilayah pada pada 4-5 September bersumber dari letusan Anak Krakatau.
“Kami menduga memang kemungkinan erupsi Gunung Anak Krakatau ini sebagai salah satu kemungkinan sumber suara dentuman di beberapa wilayah Jawa Barat pada 4-5 September 2026,” ujar Kepala PVMBG Rita Susilawati dalam jumpa pers daring pada Sabtu (5/9).
Fenomena ini seperti ketika Gunung Kelud di Jawa Timur meletus pada 2014 lalu, yang suaranya terdengar hingga ke Yogyakarta dan beberapa wilayah lain di Jawa Tengah.
Pada April 2020, Gunung Api Anak Krakatau juga pernah mengalami erupsi yang suaranya terdengar hingga wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Abu vulkanik hingga ke Jabar-DKI
Hingga Minggu (6/9) pagi, abu vulkanik imbas letusan terus dirasakan warga di DKI Jakarta dan Jawa Barat. BMKG mencatat ada dua klaster abu vulkanik Anak Krakatau.
Pertama, abu mengarah ke Jakarta, Banten dan Jawa barat. Sebaran abu mencapai ketinggian 20 ribu kaki.
Sementara, klaster kedua hingga ketinggian 50.000 kaki teramati ke arah barat daya-barat laut. Wilayah ini mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.
8 Bandara Ditutup
Total ada delapan bandara ditutup sementara akibat abu vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau. Hingga Minggu (6/9) siang, waktu penutupan terus diperpanjang mulai tengah malam hingga Senin (7/9) pagi.
Sebanyak delapan bandara tersebut yakni, Soekarno-Hatta Tangerang, Banten; Halim Perdanakusuma (HLP), Jakarta; Radin Inten II, Lampung; Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat; Budiarto Curug (RTO); Taufik Kiemas, Sumatera Selatan; dan Atung Bungsu (PXA).
Sebagai gantinya, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan telah menyiapkan tiga bandara alternatif untuk pendaratan maskapai yang terdampak penutupan bandara-bandara tersebut.
Tiga bandara alternatif yang disiapkan yakni Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat; Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah; dan Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur.
Jakarta terapan PJJ
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) terhitung mulai Senin, 7 September 2026, imbas sebaran abu vulkanik.
PJJ berlaku bagi sekolah PAUD, SKB/PKBM, SLB, SD, SMP, SMA, SMK Negeri dan Swasta yang berada di Jakarta. Gubernur DKI Pramono Anung pun mengimbau warga Jakarta tetap tenang dan waspada karena masih berstatus Level III atau Siaga.
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai Senin, 7 September 2026 sampai pemberitahuan berikutnya,” demikian keterangan akun resmi Pemprov DKI Jakarta di Instagram, dikutip Minggu (6/9).
Tangerang akhirnya PJJ
Setelah sempat mengeluarkan edaran Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) siswa PAUD/TK, SD, SMP negeri dan swasta di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang secara luring atau tatap muka, Dinas Pendidikan setempat akhirnya mengalihkan menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) mulai Senin (7/9).
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sekaligus untuk mengutamakan keselamatan peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Wahyudi Iskandar mengatakan, penerapan PJJ untuk tahap awal berlangsung selama tiga hari, yakni hingga Rabu (9/9).
“Sebagai tahap awal, pelaksanaan PJJ berlangsung selama tiga hari, yakni hingga Rabu, 9 September 2026. Selama periode tersebut, proses pembelajaran tetap berjalan dengan memanfaatkan metode pembelajaran dari rumah sesuai kesiapan masing-masing satuan pendidikan,” ujar Wahyudi, Minggu (6/9).
(CNNIndonesia.com)






