AksaraKaltim – Rumah Susun Sederhada (Rusunawa) Api-api diinspeksi mendadak (Sidak) Komisi C DPRD Bontang.
Karena Komisi C DPRD Bontang mendapatkan sejumlah kelurahan dari warga di sana.
Salah satu warga penghuni Rusunawa Api-api, Rafika (30) menerangkan dalam satu bulan, dia harus membayar tagihan air senilai Rp300 ribu.
Hal ini membuat dia menunggak pembayaran air sebesar Rp2 juta. Belum lagi, meteran air miliknya tidak bisa dihentikan.
“Memang ada free (subsidi) 15 kubik. Tapi setelah itu satu kubiknya kena biaya Rp13 ribu per kubiknya. Sebelum pimpinan pengelola yang sekarang memang tidak ada (subsidi),” jelasnya.
Hal ini sudah pernah dia laporkan dan kejadian ini sudah berlangsung sejak 2016 silam.
“Sudah dicek, tidak ada kebocoran. Saya juga berhenti pakai mesin cuci, tapi pemakaiannya tetap tinggi. Harusnya berkurang,” katanya.
Dirut PDAM Tirta Taman Bontang Suramin, yang ikut hadir, menjelaskan bahwa tarif air resmi PDAM untuk Rusunawa hanya Rp3.750 per kubik. Pembayaran dilakukan oleh pengelola, bukan oleh penghuni langsung.
“Pembayaran air itu diserahkan ke UPT pengelola, bukan ke PDAM,” jelasnya.
Sementara, Wakil Ketua Komisi C DPRD Sahib, merasa heran dengan lonjakan tarif hingga Rp13.000 per kubik. Ia meminta pengelola segera mengecek ulang sistem pencatatan dan distribusi air di Rusunawa.
“Kalau sampai ada salah hitung atau kebocoran, ini bisa jadi temuan serius. Rusunawa seharusnya meringankan warga, bukan membebani,” tegasnya.
Diakhir, salah satu warga lainnya, juga menyampaikan agar kilometer listrik yang ada bisa diturunkan ke 900 watt. Karena kilometer listrik yang terpasang saat ini dengan daya 1300 watt.
Pihak PLN Bontang memjinta da,ri pengelola untuk membuat laporan pergantian kilometer secara resmi ke PLN.