AksaraKaltim – Progres pembangunan Jalan Gotong Royong, Kelurahan Belimbing, Kota Bontang, Kalimantan Timur, baru mencapai 45 persen. Padahal, proyek yang dikerjakan dengan anggaran APBD senilai Rp2,9 miliar tersebut ditargetkan rampung pada November 2026.
Menanggapi lambatnya pengerjaan proyek, Komisi C DPRD Kota Bontang melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pembangunan pada Selasa (13/10/2026). Sidak tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi pekerjaan sekaligus mengetahui kendala yang menyebabkan progres pembangunan belum optimal.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Bontang, Muhammad Sahib, mengatakan pihaknya turun langsung ke lokasi setelah menerima keluhan masyarakat terkait lambatnya pengerjaan jalan tersebut.
“Kita datang ke sini sidak karena ada permintaan masyarakat, bahwa ada proyek yang dilaksanakan PU Kota Bontang, di sana agak lambat,” ujar Sahib.
Ia meminta kontraktor memaksimalkan sisa waktu pengerjaan agar proyek dapat diselesaikan sesuai masa kontrak. Menurutnya, Jalan Gotong Royong merupakan akses utama bagi warga setempat sehingga penyelesaiannya perlu segera dituntaskan.
“Apalagi ini akses satu-satunya warga di sini, harus segera diselesaikan dan ini belum ada 50 persen,” lanjutnya.
Sementara itu, Wakil Direktur CV Diva Anugrah Utama, Aliyas, menjelaskan keterlambatan pengerjaan dipengaruhi kendala distribusi semen atau material yang dibutuhkan dalam pembangunan.
Menurut Aliyas, pengiriman material dari pemasok di wilayah Paria, Sulawesi Selatan, sempat terkendala kondisi air laut surut. Akibatnya, jalur distribusi yang direncanakan melalui Samarinda mengalami hambatan sehingga pengiriman harus dialihkan melalui Balikpapan.
Pengalihan jalur distribusi tersebut membutuhkan tambahan waktu hingga beberapa minggu. Meski demikian, pihak kontraktor tetap menggunakan pemasok yang sama karena hasil pengujian material telah tersedia dan kesesuaiannya dengan spesifikasi proyek perlu dipertahankan.
“Kami sudah terlanjur ke Paria dan hasil ujinya juga sudah masuk,” ungkap Aliyas.
Aliyas menambahkan, saat ini tidak ada kendala berarti yang menghambat pengerjaan. Namun, akses menuju lokasi yang sempit dan tidak tersedianya jalur alternatif menjadi tantangan tersendiri selama proses pembangunan berlangsung.
Ia menjelaskan, penutupan jalan perlu dilakukan untuk mendukung pengerjaan, terutama karena terdapat pekerjaan persilangan (crossing) yang harus diselesaikan. Meski demikian, pengerjaan tetap dilakukan secara bergantian pada masing-masing sisi jalan.
“Sekarang sudah waktunya saya harus tutup, karena ada proses crossingan,” kata Aliyas.
Diketahui, proyek pembangunan Jalan Gotong Royong yang dikerjakan melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Bontang tersebut menelan anggaran APBD sebesar Rp2,9 miliar. Pekerjaan dimulai pada 27 April 2026 dengan masa pelaksanaan selama 210 hari.
Proyek ini mencakup dua segmen jalan dengan panjang masing-masing 300 meter dan 150 meter, serta lebar lima meter. Hingga Selasa (13/10/2026), progres pengerjaan baru mencapai 45 persen, sementara waktu pelaksanaan proyek semakin mendekati tenggat kontrak.
Penulis: Rahmat Ibnu






