AksaraKaltim – Persoalan ketersediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan di Kota Bontang masih belum menemui titik terang sampai kini.
Anggota DPRD Kota Bontang masa jabatan 2024-2029, Ubbaya Bengawan mengatakan, persoalan ini sudah sejak lama menjadi sorotannya. Terhitung sejak dia masih menjabat anggota Komisi II DPRD periode 2014-2019. Tapi tidak pernah ada kepastian.
Dia pun berencana, kembali mengawal persoalan ini, agar Bontang mendapatkan sebuah terobosan maupun cara untuk mendapatkan sumber air permukaan.
Karena saat ini Bontang mulai mengalami krisis air bersih. Sebab jika terus bergantung pada sumber air bawah tanah tidak memungkinkan.
“Akan saya perjuangkan dan kembali ditindaklanjuti,” kata dia.
Berbagai opsi pun digaungkan pemerintah agar kebutuhan air bersih untuk Bontang terpenuhi. Baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.
Diketahui ada beberapa opsi untuk mengatasi krisis air bersih di Bontang. Mulai dari Bendungan Marangkayu di Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang berdiri di atas lahan seluas 186 hektar dengan panjang 803 meter dan tinggi 14 meter itu diketahui memiliki daya tampung keseluruhan 12 juta meter kubik. Sehingga diprediksi mampu memenuhi kebutuhan air bersih Bontang hingga 250 liter per detik. Tapi, tidak ada kabar pasti kapan difungsikan.
Kemudian, Bendungan Pengendali (Bendali) Suka Rahmat yang ada di wilayah Kutai Timur (Kutim). Bendali Suka Rahmat turut digadang mampu memenuhi keperluan Bontang dengan kapasitas 150 liter per detik. Namun, sama halnya seperti Bendungan Marangkayu, bendali itu juga belum ada kepastian kapan dibangun.
Hingga opsi pemanfaatan air void eks lubang tambang batu bara, disebut,-sebut bakal digunakan dalam waktu dekat ini.
Kata Ubbaya, dia akan mencari tahu penyebab pasti dan persoalan apa yang membuat kedua bendungan tersebut hingga kini belum juga bisa dimanfaatkan.
“Akan kami cari tahu nanti kenapa. Karena Bontang mulai krisis air bersih,” ujarnya. (Adv)