AksaraKaltim – Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Bontang mengungkap biang kerok kenaikan harga beras di pasaran.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Bontang, Debora Kristiani, mengatakan kurangnya pasokan dari daerah luar, ditambah meningkatnya permintaan di seluruh wilayah menjadi penyebab naiknya harga beras di Bontang.
“Harga beras naik hampir di seluruh wilayah Indonesia. Di Bontang harga beras terus melonjak, kenaikannya mencapai Rp1.000 per kilogramnya,” terang Debora kepada Aksarakaltim.id, Kamis (10/7/2025).
Debora memaparkan kenaikan harga beras telah terjadi selama dua bulan terakhir. Kenaikannya pun jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Yakni, untuk beras medium mencapai 25,9%, sedangkan beras premium mengalami kenaikan hingga 16,8%.
Kenaikan itu juga terjadi mengingat selama ini ketersediaan beras di Bontang sangat bergantung dari luar daerah, terutama Sulawesi dan Jawa.
“Ketika harga beras naik dari luar, maka naik juga harganya di sini. Ditambah biaya distribusi yang panjang,” ucapnya.
Lebih jauh, kata Debora, naiknya harga beras ini membuat pihaknya langsung berkoordinasi dengan Perum Bulog untuk menyediakan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), sebagai produk pemerintah yang diharapkan mampu menstabilkan pasokan dan harga pangan.
Meskipun terkendala pada izin dari pusat mengenai pengeluaran beras SPHP tersebut, DKP3 terus mengupayakan koordinasi dan bersurat ke Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Semoga hal ini dapat disambut segera oleh pusat, agar beras SPHP dapat segera disalurkan. Kami berupaya semaksimal mungkin untuk stabilisasi harga pangan khususnya beras,” pungkasnya.





