AksaraKaltim – Menolak punah, masyarakat di Kampung Bontang Kuala mempertahankan tradisi turun temurun menyambut malam takbiran IdulAdha 1447 Hijriah di tengah era digital, pada Selasa (26/5/2026), malam.
Baik orang dewasa dan anak-anak mengumandangkan takbir menyusuri setiap gang yang ada di per kampungan atas air tersebut, sekaligus bersilahturahmi ke tiap rumah warga. Setiap rumah warga juga menyediakan berbagai hidangan makanan untuk dinikmati bersama-sama. Ada pula rumah yang menyediakan bingkisan dan membagikan uang kepada anak-anak.
Tradisi ini membuktikan bahwa di tengah modernisasi, warga Bontang Kuala tetap mampu merawat warisan leluhur.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menilai tradisi yang masih terjaga di Kampung Bontang Kuala harus dijaga. Tradisi ini menjadi salah satu cara memperkuat silahturahmi dan kepedulian sosial dilingkungan masyarakat. Mengingat hal seperti ini sudah sangat jarang ditemui di tempat lain.
“Saya apresiasi warga Bontang Kuala amsih menjaga tradisi seperti ini, karena sudah jarang ditemukan yang seperti ini,” ujarnya.
Kata dia, kegiatan seperti ini sejalan dengan program Tengok Tetangga yang tengah digaungkan Pemkot Bontang saat ini. Denga tujuan agar bisa saling perduli dengan sesama, khususnya orang yang ada di sekitar tempat tinggal.
AH-sapaanya berharap tahun selanjutnya kegiatan serupa bisa lebih ramai. Bila perlu dalam tradisi ini ditambah kegiatan adat lain agar bisa lebih meriah lagi. Sehingga menjadi daya tarik wisata budaya di Kota Bontang.
“Tahun depan saya minta bisa dibuat lebih meriah lagi. Kalau bisa ditambah kegiatan adat lainnya agar semakin menarik dan bisa menjadi daya tarik wisatawan,” paparnya.
Ketua Lembaga Adat Bontang Kuala, Jafar, mengungkapkan bahwa tradisi turun-temurun ini sudah berlangsung sejak era 1950-an dan tetap dipertahankan oleh generasi ke generasi hingga saat ini.
“Ini menjadi bagian dari rasa syukur masyarakat dalam menyambut Hari Raya Iduladha,” ujar Jafar saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Menurut Jafar, esensi utama dari bertahannya tradisi ini bukan sekadar kemeriahan seremonial, melainkan tebalnya semangat berbagi yang tumbuh di tengah masyarakat. Malam takbiran menjadi momentum di mana sekat-sekat sosial melebur melalui aksi saling memberi.
Warga yang memiliki rezeki lebih secara sukarela menyiapkan berbagai hidangan makanan hingga hadiah. Pemberian tersebut nantinya dibagikan kepada para peserta takbiran serta tamu yang datang berkunjung ke wilayah Bontang Kuala.
“Artinya kurban kami rayakan dengan cara berbagi kepada sesama sebagai bentuk syukur atas rezeki yang diterima selama setahun,” pungkasnya. (Adv)






