AksaraKaltim – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyampaikan rasa syukur atas berbagai capaian positif yang telah diraih Kota Bontang sepanjang tahun 2024 hingga pertengahan 2025.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil kerja keras dan kolaborasi seluruh pihak, serta menjadi modal kuat untuk melangkah menghadapi tantangan pembangunan ke depan.
“Kita patut bersyukur bahwa indikator makro pembangunan Kota Bontang menunjukkan progres yang sangat positif,” ujar Wali Kota.
Salah satu capaian yang membanggakan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang pada tahun 2024 mencapai 82,49. Angka ini tidak hanya melampaui rata-rata Provinsi Kalimantan Timur 78,79, tetapi juga nasional 75,02.
Menurut Neni, capaian tersebut mencerminkan peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan, dan daya beli.
Selain itu, angka kemiskinan di Kota Bontang terus menurun secara konsisten. Dari 4,67 persen pada tahun 2018, kini hanya 3,21 persen pada semester I tahun 2025.
“Ini adalah bukti nyata efektivitas berbagai program sosial dan pemberdayaan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah,” jelasnya.
Ekonomi Mulai Bangkit
Meskipun sempat mengalami kontraksi sebesar -2,51 persen pada tahun 2024, perekonomian Bontang mulai menunjukkan tanda pemulihan. Data kuartal pertama dan kedua tahun 2025 masing-masing mencatat pertumbuhan sebesar 1,67 persen dan 4,89 persen.
“Ini menandakan bahwa roda ekonomi Bontang mulai bergerak ke arah positif. Kita optimis tren ini akan terus berlanjut,” ungkap Wali Kota.
Di sisi lain, rasio gini Kota Bontang saat ini berada di angka 0,330, jauh lebih baik dibandingkan rata-rata nasional 0,381. Hal ini menunjukkan bahwa pemerataan pendapatan di Bontang semakin baik dan adil.
Kemudian, ketergantungan Bontang pada sektor industri ekstraktif, seperti migas dan petrokimia, menjadi perhatian serius. Pasalnya, sektor ini sangat rentan terhadap fluktuasi global. Oleh karena itu, Wali Kota menekankan perlunya transformasi ekonomi secara bertahap.
“Ke depan, kita harus memperkuat sektor jasa, perdagangan, kelautan, ekonomi kreatif, dan ekonomi hijau yang berbasis keberlanjutan. Ini bukan sekadar pilihan, tapi sebuah keharusan,” tegasnya.
Fokus pada Efisiensi dan Kolaborasi
Namun, Neni mengingatkan bahwa capaian ini tidak boleh membuat kita berpuas diri. Justru harus menjadi pemacu semangat untuk terus berbenah dan memperkuat sinergi di semua sektor.
Tantangan ke depan tak kalah besar. Salah satunya adalah penyesuaian kebijakan fiskal nasional yang berdampak pada berkurangnya dana transfer ke daerah. Untuk itu, Wali Kota menekankan pentingnya penguatan efektivitas pengelolaan APBD, peningkatan inovasi PAD, dan kolaborasi lintas sektor.
“APBD Kota Bontang tahun 2026 diproyeksi mengalami kontraksi. Tapi kami pastikan, komitmen terhadap keberlanjutan program prioritas tidak akan terganggu. Pelayanan publik tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Langkah efisiensi dan rasionalisasi anggaran akan dilakukan secara terukur dan hati-hati, tanpa mengurangi kualitas layanan kepada masyarakat.
Ajakan Bersatu dan Berbenah
Menutup sambutannya, Wali Kota mengajak seluruh unsur masyarakat – mulai dari Forkopimda, dunia usaha, akademisi, tokoh masyarakat, hingga media – untuk memperkuat sinergi dalam membangun Kota Bontang.
“Melalui momentum Hari Jadi Kota Bontang ke-26 ini, mari kita bersatu dan terus berbenah. Saya yakin, dengan kolaborasi yang erat, kita dapat melahirkan kebijakan pembangunan yang lebih partisipatif, efektif, dan berkeadilan.” terangnya.






