AksaraKaltim – Atlet Karate Kota Bontang berhasil memboyong 16 medali dalam kejuaraan Bushido Karate Championship, tingkat Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda, 1–4 Oktober 2026.
Capaian itu terdiri dari 3 medali emas, 6 perak, dan 7 perunggu. Para atlet berasal dari kelompok usia dini, pra-pemula hingga kadet, dengan jenjang pendidikan SD hingga SMP.
Sebanyak 14 atlet yang berlaga berasal dari Perguruan Gojukai dan Dojo Dragon tersebut berada di bawah asuhan pelatih Yuni Hariani.
Menurut Yuni, perolehan medali tersebut menunjukkan bahwa persiapan dan latihan yang dilakukan para anak didiknya tidak sia-sia selama ini.
Bukan sekadar mengejar medali, keikutsertaan dalam kompetisi merupakan kesempatan bagi atlet muda untuk menguji kemampuan dan mental bertanding.
“Atlet kami sudah membuktikan mampu bersaing dan berprestasi. Artinyakami ingin ini berkelanjutan dan pembinaan diperhatikan,” kata Yuni.
Berbekal Biaya Mandiri
Yuni mengatakan, keikutsertaan para atlet dalam kompetisi kali ini juga tidak terlepas dari inisiatif orang tua. Untuk mengikuti pertandingan di Samarinda, sebagian biaya masih ditanggung secara mandiri oleh keluarga.
Total biaya yang dikeluarkan orang tua sekitar Rp1,1 juta per atlet, selain adanya bantuan dari Kepala SD Negeri 001 Bontang Selatan.
Menurutnya , dukungan orang tua selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan para atlet. Mereka tidak hanya membantu pembiayaan, tetapi juga mendorong anak-anak mendapatkan pengalaman bertanding sejak usia dini.
“Ini juga inisiatif orang tua untuk menguji mental anak-anak di lapangan pertandingan,” ujarnya.
Harapan Yuni Bagi Atlet
Disisi lain, Yuni juga menginginkan pemerintah Kota Bontang memberikan perhatian lebih kepada atlet-atletnya yang telah membawa nama daerah.
Ia berharap penghargaan tidak hanya diberikan kepada atlet senior atau mereka yang telah berprestasi di tingkat nasional.
Atlet usia dini yang mulai menunjukkan prestasi, menurut dia, juga perlu mendapatkan dukungan agar pembinaannya berkelanjutan.
Salah satu bentuk penghargaan yang diharapkan adalah beasiswa pendidikan tambahan bagi atlet berprestasi.
“Semoga pemerintah memperhatikan atlet-atlet ini. Minimal mereka mendapatkan beasiswa tambahan karena sudah membawa nama daerah,” kata Yuni.
Menurut dia, penghargaan semacam itu dapat menjadi motivasi bagi atlet untuk terus berlatih sekaligus mendorong anak-anak lain menekuni olahraga prestasi.
Yuni mengingatkan, atlet merupakan aset yang perlu dipersiapkan dalam jangka panjang. Karate memiliki jenjang kompetisi yang panjang, mulai dari tingkat daerah, nasional hingga internasional.
Karena itu, pembinaan tidak cukup hanya dilakukan ketika ada kejuaraan. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan fasilitas, dukungan pembiayaan dan kesempatan bertanding secara berkelanjutan.
“Jangan sampai para atlet ini lebih memilih keluar dan membawa nama daerah lain karena pemerintahnya abai,” ujarnya.
Ia menilai, perhatian terhadap atlet juga berkaitan dengan keberlanjutan prestasi olahraga Bontang. Tanpa dukungan anggaran dan fasilitas yang memadai, beban pembinaan akan terus bertumpu pada pelatih dan orang tua.
Dari 14 atlet yang dikirim, tiga di antaranya berhasil meraih medali emas.
Fatimah Az-Zahra Septayu meraih juara pertama kumite putri usia dini kelas +25 kilogram.
Faiqah Abidah Azzahra menjadi juara pertama kumite putri pra-pemula -30 kilogram.
Sementara Jessy Gresi Dhelova meraih juara pertama kumite putri pra-pemula +30 kilogram.
Medali perak diraih Kanzia Izzatunnisa, Raira Syifa Azzahra, Arfan Faizan Rafassya, Yusi Tandi Mette, Clarisa Ayuni Tonapa Pandey, serta Atikah Farah Dzakiyah Adha.
Atikah juga meraih medali perunggu pada nomor kumite putri kelas -61 kilogram. Medali perunggu lainnya diraih Aqilah Dzakiyah R, M Kenzo Alzam Danabrata, M Afdal Dzikra, Mikhayla Hanum Nur Azzalea, dan Ilona Zakkiya Aishwarya.
Aqilah juga mencatat prestasi dengan meraih juara tiga pada nomor kata perorangan putri.
Para atlet tersebut berasal dari sejumlah sekolah di Bontang, terutama SD Negeri 001 Bontang Selatan, serta beberapa sekolah lainnya di Bontang dan satu atlet dari SMP Negeri 1 Bontang.
Yuni sendiri tidak hanya berperan sebagai pelatih. Ia juga mengemban amanah sebagai wasit karate nasional dan pelatih nasional.
Ia berharap capaian 14 atlet Bontang di Samarinda menjadi awal dari pembinaan yang lebih serius.
“Kalau mereka sudah membuktikan bisa berprestasi, tinggal bagaimana kita menjaga dan mengembangkan mereka,” pungkasnya.






