AksaraKaltim – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar), Kalimantan Timur, meresmikan Patung Bung Karno sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa yang juga terjadi di Kecamatan Sangasanga, agar generasi bangsa mengenang perjuangan 27 Januari, 79 tahun silam.
“Peresmian Patung Bung Karno dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sangasanga ini merupakan momentum penting bagi masyarakat, sekaligus bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa di Sangasanga,” kata Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin saat peresmian tersebut di Sangasanga, diberitakan Antara, Selasa (27/1).
Peresmian Patung Presiden RI pertama Soekarno ini bertepatan dengan peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga, yakni pada 26 Januari 1947 pejuang mengecoh Belanda dengan menggelar keramaian kesenian, kemudian dini harinya membagikan senjata ke para pejuang dan menyerang penjajah, sehingga kemudian berhasil melumpuhkan penjajah.
Rendi menjelaskan bahwa pembangunan Patung Bung Karno dan RTH Sangasanga merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan dukungan PT Pertamina Sangasanga, sebagai wujud kepedulian bersama terhadap pelestarian sejarah dan pembangunan daerah.
Ia pun berharap kawasan ini ke depan tidak hanya menjadi ruang publik, tetapi juga pusat pembelajaran sejarah, khususnya bagi generasi muda, serta menjadi ruang aktivitas seni dan budaya yang dapat diisi beragam pementasan maupun pembinaan secara rutin.
Pemkab Kukar juga berkomitmen terus melengkapi kawasan tersebut dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti pembangunan mushola, kios UMKM, serta peningkatan infrastruktur jalan menuju kawasan RTH Sangasanga.
“Pemkab Kukar akan terus berupaya menghadirkan pembangunan yang merata di seluruh wilayah. Kami tidak ingin ada ketimpangan pembangunan. Semua wilayah di Kutai Kartanegara akan kami perhatikan secara adil dan berkelanjutan,” kata Rendi.
Sementara itu, peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga berawal ketika tentara Belanda (NICA) pada 1945 menguasai Sangasanga. Hal ini membuat rakyat setempat bersama para pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) bertekad mengusir Belanda.
Suatu saat, pejuang Sangasanga mengadakan rapat dan tercetus rencana merebut gudang senjata Belanda dengan cara mengalihkan perhatian penjajah kepada berbagai keramaian kesenian daerah pada 26 Januari 1947.
Ditengah keramaian itu, para pejuang membagikan senjata dan amunisi untuk merebut kekuasaan, sehingga pada pukul 03.00 Wita dini hari, perjuangan pun berhasil, sehingga pukul 09.00 Wita, Sangasanga berhasil dikuasai pejuang, ditandai dengan diturunkannya bendera Belanda di Sangasanga Muara oleh La Hasan.






