AksaraKaltim – Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud meminta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim menggandeng sektor swasta melalui skema corporate social responsibility (CSR) untuk mendanai berbagai ajang olahraga guna meringankan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Olahraga jadi bidang yang penting. Namun dengan kondisi fiskal Kaltim saat ini, tidak mungkin kami memaksakan APBD,” kata Rudy saat menerima audiensi pengurus KONI Kaltim di Ruang Rapat Gubernur Kaltim, Samarinda, Kamis seperti diberitakan Antara.
Dia mengharapkan keterlibatan pihak ketiga berdampak terhadap pembiayaan olahraga tidak membebani APBD, sebab anggaran daerah saat ini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Menurut dia, pemerintah tetap mendukung pencapaian prestasi olahraga Kaltim di tingkat regional, nasional, maupun internasional.
Kendati demikian, dia mengingatkan agar setiap penggunaan anggaran harus dipertanggungjawabkan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Jangan sampai kami mendapat prestasi, tetapi ujungnya menyisakan masalah. Tata kelola keuangan KONI harus akuntabel, transparan, dan profesional. Jangan sampai atletnya naik podium, tetapi integritas dan administrasi turun,” tegas Gubernur.
Sementara, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim Rasman melaporkan sebanyak 58 dari 64 cabang olahraga akan dipertandingkan pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026 di Kabupaten Paser.
“Rencananya, cabang yang akan dipertandingkan merupakan cabang unggulan Kaltim. Namun, karena cabang lain sudah mengikuti pra-kualifikasi, mereka juga meminta untuk ikut dipertandingkan,” ujar Rasman.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum KONI Kaltim Anderiy Syachrum menyampaikan wacana pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi menjadi setiap dua tahun sekali dari sebelumnya empat tahun sekali.
Perubahan periodisasi itu diusulkan sebagai ajang evaluasi dan persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Saat ini, sudah ada dua daerah yang melaksanakan Porprov setiap dua tahun sekali, yakni Jawa Timur dan Jawa Barat. Tujuannya untuk menjaga kesinambungan pembinaan atlet agar tetap semangat dan arena tetap terawat,” jelas Anderiy.






