AksaraKaltim – Sebelas orang utan dievakuasi dari sekolah hutan Jejak Pulang di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), saat karhutla mengancam kawasan tersebut. Semua orang utan diselamatkan ke kandang evakuasi setelah status darurat diaktifkan saat api mulai merambat mendekati sekolah hutan.
Head of Orangutan Care Jejak Pulang, Siti Nur Badriyah mengatakan sekolah hutan menjadi tempat rehabilitasi orang utan yatim piatu sebelum nantinya kembali ke habitat. Sekolah hutan tersebut berada di dalam KHDTK seluas sekitar 3.517,53 hektare.
“Jejak Pulang fokus pada rehabilitasi orang utan yatim piatu. Pusat rehabilitasi kami berada di kawasan hutan KHDTK. Luas KHDTK sekitar 3,5 ribu hektare, sedangkan area yang digunakan sebagai sekolah hutan sekitar 130 hektare,” ujar Siti kepada detikKalimantan, Rabu (2/9/2026).
Siti mengatakan ancaman kebakaran membuat tim Departemen Orang Utan langsung mengaktifkan status darurat. Seluruh penjaga orang utan kemudian diperintahkan membawa satwa yang berada di sekolah hutan menuju lokasi aman.
Ancaman karhutla sebenarnya telah diantisipasi sehari sebelum proses evakuasi dilakukan. Para penjaga diminta membawa orang utan mendekati sungai karena lokasinya lebih dingin, memiliki banyak air dan berada lebih dekat dengan pintu keluar sekolah hutan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat evakuasi apabila kebakaran semakin mendekati kawasan. Sehingga saat status darurat akhirnya diberlakukan, orang utan dapat secara bertahap dibawa keluar dari sekolah hutan.
“Jadi, ketika evakuasi dibutuhkan, orang utan bisa lebih cepat dibawa keluar dari sekolah hutan. Setelah status emergensi diaktifkan, kami memberikan instruksi kepada seluruh penjaga orang utan untuk secara perlahan membawa orang utan keluar dari sekolah hutan,” tuturnya.
Status darurat mulai diberlakukan pada Selasa (1/9) pukul 16.00 Wita dan proses evakuasi langsung dilakukan pada waktu yang sama. Tim turut berkoordinasi dengan bagian pendukung untuk menyiapkan kendaraan dan kebutuhan selama pemindahan satwa.
“Selain dengan penjaga orang utan, kami juga berkoordinasi dengan supporting department, seperti driver dan logistik. Driver diminta menyiapkan kendaraan untuk standby,” ungkapnya.
Proses pemindahan 11 orang utan tidak dapat dilakukan secara bersamaan sehingga evakuasi berlangsung secara bertahap. Tim juga mendapat bantuan dari Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA dalam penyediaan kendaraan maupun personel.
“Dengan bantuan seluruh pihak tersebut, kami akhirnya berhasil mengevakuasi 11 individu orang utan dari sekolah hutan menuju kandang evakuasi terdekat di Kilometer 38,” jelas Siti.
Evakuasi berlangsung sekitar dua jam dan selesai sekitar pukul 18.00 Wita. Seluruh orang utan telah dikeluarkan dari sekolah hutan sebelum kondisi gelap.
Siti memastikan proses rehabilitasi tetap dilakukan dengan memberikan stimulasi buatan atau enrichment yang dibuat menyerupai kondisi di hutan. Pakan hutan hingga fasilitas untuk melatih pergerakan orang utan tetap diberikan selama berada di kandang evakuasi.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto mengatakan keputusan mengevakuasi 11 orang utan diambil setelah melihat ancaman karhutla di sekitar pusat rehabilitasi. Ia menuturkan, evakuasi menjadi pilihan paling tepat saat kondisi kebakaran mengancam kawasan.
“(Betul) dievakuasi. Berdasarkan hasil kesepakatan bersama, langkah itu merupakan pilihan yang menurut saya paling tepat, menyangkut kesejahteraan satwa, keselamatan satwa dan lain sebagainya. Terutama juga terkait dengan perkembangan rehabilitasi yang sudah berlangsung,” jelasnya.
Ari memastikan kondisi 11 orang utan tersebut kini dalam keadaan sehat. Meski demikian, pengawasan masih dilakukan secara ketat oleh tenaga medis, keeper hingga petugas BKSDA Kaltim selama satwa berada di lokasi evakuasi.
“Kondisi saat ini, ke-11 individu orang utan dalam kondisi sehat. Tetap kami lakukan pemantauan secara ketat karena juga ada keterbatasan sarana,” katanya.
Pemantauan kesehatan dilakukan untuk memastikan tidak ada dampak lanjutan akibat karhutla yang terjadi di sekitar pusat rehabilitasi. Termasuk kemungkinan gangguan pernapasan akibat paparan asap selama kebakaran berlangsung.
“Dari hasil pemeriksaan, kondisinya sehat dan aman,” pungkasnya.
(detikKalimantan)






