AksaraKaltim– Suasana haru menyelimuti Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) saat mantan Bupati Kukar, Rita Widyasari, menginjakkan kaki kembali di kampung halamannya, Tenggarong.
Setelah menjalani masa penahanan selama hampir 10 tahun di Jakarta, kepulangan Rita disambut antusias oleh ratusan warga yang mengiringinya mulai dari bandara hingga ke kediaman pribadinya di Jalan Melati, Kecamatan Tenggarong.
Sambutan luar biasa ini di luar ekspektasi Rita. Ia mengaku sempat mencoba menyamar agar tidak menarik perhatian, namun warga tetap mengenali dan memberikan pengawalan ketat di sepanjang jalan.
“Ini terharu ya Allah. Tadi pas melewati jembatan, waktu turun dari pesawat saya sebenarnya nyamar pakai masker biar enggak kelihatan orang. Saya pikir enggak banyak orang, eh tahunya ada motor-motor ikut mengawal sampai ke sini. Alhamdulillah disambut luar biasa, tidak terbayangkan,” ujar Rita saat ditemui di kediamannya.
Saat disinggung mengenai langkah ke depan, Rita menegaskan bahwa dirinya belum berpikir untuk kembali ke panggung politik. Fokus utamanya saat ini adalah beristirahat, memulihkan kondisi, serta merajut kembali silaturahmi keluarga yang sempat terputus selama satu dekade.
“Sementara ini mau di sini dulu, mau lihat situasi sambil istirahat. Bulan Juli nanti kan ada haul almarhum bapak saya, Syaukani HR. Saya mau ziarah ke kuburan bapak, adik, dan keluarga,” ungkapnya.
Kesedihan Rita pun tak terbendung saat mengetahui beberapa kerabat dekatnya telah berpulang selama ia berada di Jakarta. “Banyak hubungan keluarga yang terputus selama hampir sepuluh tahun ini, saya bahkan baru tahu tadi di bandara kalau beberapa om dan tante saya sudah meninggal,” tambahnya dengan nada getir.
Melihat perkembangan Tenggarong saat ini, Rita menyampaikan apresiasinya terhadap kemajuan infrastruktur kota, salah satunya penataan kawasan Pulau Kumala yang kini menjadi pusat ruang publik bagi masyarakat.
“Keren, saya senang. Dulu kan saya yang membongkar Tanjung itu, cita-cita saya memang mau buat tempat nongkrong begitu. Alhamdulillah sekarang sudah jadi bagus,” tuturnya.
Selain merindukan suasana kota, Rita tak menampik rasa kangennya pada kuliner khas tanah kelahirannya. Ia menyebut sangat merindukan Bakso Gelora, serta masakan autentik Kutai seperti gangan asam salai dan sayur labu.
Menariknya, Rita secara tegas menyatakan belum ingin membuka ruang untuk agenda politik maupun pertemuan dengan para pejabat daerah. Ia memilih menghabiskan waktu bersama masyarakat kecil dan tokoh adat.
“Nggak, nggak dulu (bertemu politisi/pejabat), saya lebih suka rakyat aja. Tapi kalau ke Sultan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, rencananya besok atau lusa saya mau sowan,” pungkasnya menyudahi wawancara.






