AksaraKaltim – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Bontang mengubah pemanfaatan aset gedung untuk penguatan fungsi edukasi dan literasi publik.
Kepala DPK Bontang, Retno Febriaryanti, menegaskan bahwa fasilitas yang dimiliki kini tidak lagi berfungsi secara konvensional, melainkan diarahkan menjadi ruang interaksi dan pembelajaran masyarakat.
“Gedung utama tetap menjadi pusat layanan, namun kini didesain lebih terbuka untuk berbagai kegiatan literasi, diskusi, hingga pengembangan kreativitas warga,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Sementara itu, Gedung Depo Arsip difokuskan sebagai pusat pengelolaan arsip yang tertata rapi dan profesional guna mendukung sistem kearsipan daerah yang lebih modern.
DPK juga menghadirkan Gedung Mini Theater sebagai fasilitas unggulan yang dibangun melalui Dana Alokasi Khusus senilai lebih dari Rp4,4 miliar, untuk menghadirkan pengalaman literasi berbasis audio visual.
Tak hanya itu, Retno menegaskan bahwa Gedung eks Satimpo juga disiapkan menjadi ruang diorama yang menyajikan sejarah dan budaya secara visual agar lebih menarik dan mudah dipahami masyarakat.
Penambahan aset juga datang dari Gedung BCH hibah PT Kaltim Nitrate Indonesia yang memperluas kapasitas ruang layanan dan aktivitas publik.
“Melalui optimalisasi ini, Kita menargetkan perpustakaan menjadi ruang publik yang inklusif, modern, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di era digital,” tandasnya.






