AksaraKaltim — Menjelang Hari Raya IdulAdha, kehadiran pedagang hewan kurban musiman di pinggir jalan Kota Bontang kerap memicu perhatian. Tak hanya terkait estetika dan ketertiban kota, kondisi ini juga menyangkut faktor kenyamanan dan keselamatan para pedagang itu sendiri.
Menanggapi fenomena tahunan tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang berkomitmen untuk mengevaluasi tata kelola lokasi perdagangan hewan kurban demi menciptakan ekosistem yang lebih tertib.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Pihaknya menyambut baik masukan dari para pelaku usaha musiman dan berjanji akan segera melakukan evaluasi lintas sektor.
Agus Haris menjelaskan bahwa penentuan lokasi pasar hewan musiman ke depan harus memperhitungkan berbagai aspek strategis, mulai dari aksesibilitas pembeli hingga dampak lingkungan.
“Masukannya saya terima dan pasti akan dievaluasi. Pertama, akses (transportasi) dan lain sebagainya juga harus diperhatikan dengan matang,” kata Agus Haris saat dikonfirmasi.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Bontang menargetkan regulasi dan penyediaan lahan khusus ini dapat terealisasi pada musim haji tahun depan. Langkah ini diharapkan mampu menyinergikan kepentingan peternak lokal, kenyamanan pedagang, serta keindahan tata ruang Kota Taman.
“Tahun depan coba kami carikan tempat yang representatif. Nantinya, seluruh pedagang dan peternak sapi musiman saat menjelang IdulAdha akan diarahkan untuk berjualan di satu lokasi terpusat tersebut,” pungkasnya.
Sebelumnya, salah seorang pedagang sapi musiman di Bontang, Siti Nur Rohmah, mengungkapkan keluh kesahnya selama berjualan di bahu jalan. Ia berharap pemerintah daerah dapat memfasilitasi sebuah lokasi khusus yang terpusat untuk aktivitas jual beli hewan ternak menjelang IdulAdha.
Menurut Siti, berjualan di pinggir jalan raya memiliki risiko keselamatan yang tinggi, terlebih bagi pedagang yang terpaksa membawa keluarga ke lokasi jualan.
“Kami minta difasilitasi lokasi khusus untuk jual beli sapi saat menjelang Iduladha agar lebih tertib dan aman. Kadang kami jaga (lapak) bawa anak, takut tiba-tiba mereka lari ke jalan,” ujar Siti.
Selain faktor keselamatan, aspek psikologis dan kenyamanan juga menjadi alasan utama. Minimnya fasilitas di lapak pinggir jalan membuat para pedagang harus beristirahat dengan kondisi seadanya di ruang terbuka.
“Kalau di pinggir jalan gini, kami malu juga kalau lagi tidur-tiduran dilihat orang lewat. Kalau ada tempat khusus, pasti jauh lebih enak dan tertib,” imbuhnya. (Adv)






