AksaraKaltim – Penerapan Kurikulum Merdeka memberikan ruang gerak lebih luas bagi tenaga pendidik untuk bereksplorasi. Namun, fleksibilitas ini sekaligus menjadi tantangan besar bagi para guru untuk terus melahirkan ide-ide segar agar pembelajaran di kelas tidak menjadi jenuh.
Guru SD Negeri 006 Bontang Selatan, Zakia Nur Masruroh menjelaskan tantangan dalam penerapan Kurikulum Merdeka, guru diharuskan memiliki kreativitas tinggi sehingga saat siswa mengikuti pembelajaran tidak mudah jenuh.
“Untuk Kurikulum Merdeka guru memang bebas melakukan eksplorasi, tapi satu sisi, kami sebagai guru juga harus memiliki ide-ide baru biar pembelajaran tidak monoton,” jelasnya.
Kata dia, demi memudahkan mencari solusi tantangan yang ada di Kurikulum Merdeka. Para guru di SDN 006 Bontang Selatan sepakat mengadakan pertemuan rutin satu kali setiap minggu. Agenda rembuk ini menjadi wadah bertukar pikiran dan berbagi informasi mengenai kendala maupun keberhasilan metode mengajar di kelas.
Menurut Zakia, diskusi ini sangat penting untuk menyamakan persepsi, mengingat kebutuhan siswa di kelas rendah seperti kelas 1 sampai 3 dan kelas tinggi, yani kelas 4 dan 6 memiliki karakteristik yang berbeda.
“Kami rutin lakukan rembuk untuk saling memahami metode pembelajaran. Jadi tahu, untuk kelas tinggi metodenya seperti ini dan kelas rendah begini. Kami masih terus belajar untuk menemukan materi yang benar-benar cocok untuk anak didik,” jelasnya.
Berbeda dengan Kurikulum 2013 (K13) yang memiliki rancangan detail atau blue print materi yang sudah tertata kaku, Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa.
Meski metode praktikum langsung dalam Kurikulum Merdeka dinilai lebih menarik bagi siswa karena menawarkan hal baru setiap harinya, Zakia menekankan bahwa keberhasilan belajar tetap kembali pada dua faktor utama. Pertama karakter anak dan pola didik orang tua di rumah.
“Siswa seharusnya tertarik karena setiap hari mempelajari hal berbeda, apalagi ada praktik langsung. Tapi semua kembali ke karakter anak dan bagaimana didikan orang tua di rumah. Sinergi itu tetap menjadi kunci,” pungkasnya. (Adv)






